Ada masa
ketika mahasiswa turun ke jalan membawa tuntutan. Hari ini mahasiswa turun ke
kedai kopi membawa laptop, charger, dan keresahan yang diketik pelan-pelan di
Notes telfon genggam. Perlawanan mengalami reposisi. Dari mimbar bebas ke
smoking area. Dari megaphone ke Instagram Story hitam-putih dengan musik latar Buruh-Tani
atau Hindia.
Di
Majene, aktivisme mahasiswa hari ini tumbuh bersama aroma kopi susu gula aren.
Gerakan tidak benar-benar mati, hanya pindah tempat duduk. Kadang di pojok kafe
dekat colokan. Kadang di meja panjang dengan empat gelas kosong dan satu asbak
penuh puntungan. Mereka masih membicarakan rakyat, oligarki, kampus, aparat,
kapitalisme, dan masa depan Indonesia, tetapi sambil menunggu traktiran dari
kakanda atau kawan yang lagi diberkati admin slot.
Diskusi
belum selesai, kafe sudah tutup. Kalimat yang mungkin akan lebih jujur untuk
menggambarkan kultur gerakan mahasiswa hari ini. Karena terus terang saja: kita
hidup di zaman ketika aktivisme dan nongkrong mulai saling memposisikan.
Di
Majene, kota kecil yang terlalu sepi untuk disebut metropolis tetapi terlalu
ramai untuk disebut tenang, kedai kopi menjelma semacam sekretariat ideologis
baru. Di sana orang-orang membaca teori kritis sambil memesan kopi susu.
Revolusi dibahas dekat terminal colokan dan QR Code WiFi gratisan. Di samping
itu, seseorang mengutip Trotsky dengan sangat serius sementara temannya sibuk
memotret kopi untuk diunggah ke second account.
Dan
anehnya, semua itu terasa normal. Mahasiswa hari ini hidup dalam dua dunia
sekaligus: dunia perlawanan dan dunia algoritma. Siang mereka meneriakkan
kritik terhadap kekuasaan. Malamnya mereka mengecek siapa yang melihat Story
demonstrasi mereka. Kadang perjuangan terasa tulus. Kadang terasa seperti
konten. Kadang keduanya bercampur begitu saja sampai sulit dipisahkan.
Ada
semacam kelelahan kolektif yang menggantung di udara tongkrongan mahasiswa
Majene hari ini. Orang-orang ingin marah, tetapi juga capek. Ingin bergerak,
tetapi besok pagi ada kelas. Ingin menggulingkan sistem, tetapi uang kas
organisasi masih minus dipinjam senior. Dunia terasa terlalu mahal untuk
idealisme yang tidak dibayar.
Maka
nongkrong menjadi bentuk bertahan hidup. Jangan remehkan meja kopi mahasiswa.
Banyak teori lahir di sana. Banyak gerakan direncanakan di sana. Banyak gosip
balik meja birokrat daerah dibisikkan di sana. Banyak manifesto diketik sambil
numpang wifi. Banyak solidaritas tumbuh dari rokok tanpa cukai yang dibagi bergantian.
Tetapi di
saat yang sama, kedai kopi juga perlahan menjadi tempat di mana kemarahan
dijinakkan secara estetis. Kita mulai lebih sibuk terlihat kritis daripada
benar-benar kritis.
Poster
demonstrasi dibuat seperti feed Pinterest. Pamflet kajian terlihat seperti
cover album indie. Diskusi publik lebih ramai jika desain posternya brutalist
dan ada tulisan “limited seat”. Semua orang ingin terlihat sadar politik,
tetapi tidak semua orang siap menanggung konsekuensi politik.
Barangkali
memang begitulah nasib gerakan mahasiswa di era internet: terlalu sadar kamera
untuk menjadi benar-benar liar. Namun menyalahkan mahasiswa sepenuhnya juga
terlalu naif. Sebab mereka tumbuh di zaman yang membingungkan. Harga kebutuhan
naik terus, lapangan kerja makin absurd, kampus berubah seperti perusahaan
administrasi, dan masa depan terasa seperti file corrupt yang tidak bisa
dibuka.
Di tengah
situasi seperti itu, nongkrong menjadi ruang pelarian sekaligus ruang bertahan.
Tempat orang-orang saling memastikan bahwa mereka belum sepenuhnya sendirian
menghadapi dunia yang makin bising dan melelahkan.
Kadang
saya berpikir, mungkin gerakan mahasiswa hari ini memang tidak sedang kalah.
Mereka hanya kehabisan tempat. Trotoar digusur. Ruang publik dipagar.
Sekretariat organisasi perlahan kosong. Kampus terlalu sibuk mengejar
akreditasi. Maka kedai kopi menjadi satu-satunya ruang tersisa di mana orang
masih bisa bicara panjang tanpa diusir terlalu cepat.
Meski
tentu saja tetap ada batasnya. Sebab pada akhirnya, bahkan diskusi paling
revolusioner pun harus berhenti ketika kasir datang membawa tagihan dan berkata
pelan: “tabe’ kanda, mau maka tutup.” Dan begitulah zaman bekerja, perlawanan
hari ini sering kali berakhir bukan karena negara terlalu kuat, tetapi karena
kafe sudah tutup jam dua belas malam.
