Dulu
orang masuk kampus untuk mencari ilmu. Sekarang, selain itu, orang juga masuk
kampus untuk mencari angle foto yang pencahayaannya bagus. Gedung fakultas
belum tentu punya perpustakaan yang layak, tapi hampir pasti punya spot estetik
untuk kebutuhan “dump akhir bulan”. Barangkali inilah perkembangan paling
mutakhir dari dunia pendidikan: dari ruang berpikir menjadi ruang personal
branding.
Mahasiswa hari ini hidup di zaman ketika identitas lebih penting daripada isi kepala. Orang tidak lagi sibuk menjadi pintar, melainkan sibuk terlihat pintar. Buku-buku dibeli bukan untuk dibaca, tetapi untuk difoto berdampingan dengan kopi dan laptop yang tab-nya cuma Spotify. Teori sosial direduksi jadi caption Instagram. Bahkan rasa marah terhadap ketidakadilan sekarang harus cukup fotogenik untuk masuk feed.
Kampus perlahan berubah jadi showroom kepribadian. Ada yang membangun persona “aktivis rakyat”, ada yang jadi “anak senja intelektual”, ada juga yang spesialis terlihat sibuk sambil membawa tote bag berisi charger dan kecemasan hidup. Semua orang sedang mengkurasi dirinya sendiri. Bahkan keresahan pun sekarang punya estetika.
Lucunya, semakin banyak orang bicara soal kesadaran kritis, semakin sedikit yang benar-benar mau membaca sesuatu lebih dari tiga halaman. Kita hidup di era ketika orang bisa mengutip Michel Foucault tanpa pernah selesai membaca pengantar filsafat. Seminar-seminar dipenuhi istilah berat seperti “diskursus”, “hegemoni”, dan “dekonstruksi”, tapi setelah acara selesai, panitianya tetap bayar pekerja dokumentasi pakai exposure.
Mahasiswa hari ini juga punya hubungan yang unik dengan aktivisme. Demonstrasi kadang terasa seperti festival tahunan dengan dresscode gelap dan template poster yang sama. Ada yang datang membawa tuntutan, ada yang datang membawa kamera mirrorless. Orasi direkam vertikal agar cocok masuk TikTok. Di titik tertentu, perjuangan sosial dan kebutuhan konten mulai sulit dibedakan.
Tentu ini bukan sepenuhnya salah mahasiswa. Sistem memang berhasil mengubah hampir semua hal menjadi performa. Bahkan kepedulian sosial sekarang bekerja dengan logika algoritma: semakin emosional, semakin ramai; semakin ramai, semakin dianggap penting. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk terlihat peduli daripada benar-benar memahami persoalan. Kita dibentuk menjadi generasi yang cepat bereaksi tetapi cepat lupa.
Dan kampus, alih-alih menjadi ruang berpikir yang liar, justru sering berubah jadi pabrik tenaga kerja dengan bonus overthinking. Mahasiswa didorong untuk produktif sejak semester awal. Ikut organisasi untuk CV. Magang untuk LinkedIn. Webinar untuk sertifikat. Semua orang berlomba menjadi “versi terbaik dirinya”, tanpa pernah sempat bertanya siapa sebenarnya diri yang sedang dibangun itu.
Ironisnya, di tengah semua perlombaan itu, mahasiswa tetap miskin. Secara finansial maupun emosional. Uang habis untuk kopi dua puluh delapan ribu yang diminum sambil mengeluh kapitalisme. Tugas menumpuk. Mental compang-camping. Tapi tetap harus upload story dengan lagu indie agar terlihat baik-baik saja. Barangkali generasi ini memang diajarkan satu hal paling penting: bagaimana terlihat stabil saat sebenarnya sedang hancur perlahan.
Namun di balik semua satir itu, mahasiswa tetap menyimpan kemungkinan yang menarik. Sebab keresahan, seberapa pun estetik kemasannya, tetaplah keresahan. Dan kadang perubahan memang lahir dari orang-orang yang awalnya cuma bercanda di tongkrongan, lalu suatu malam benar-benar sadar bahwa ada sesuatu yang salah dengan dunia ini.
Mungkin mahasiswa hari ini terlalu akrab dengan ironi. Terlalu sering bercanda tentang masa depan karena takut membicarakannya secara serius. Tapi bukankah itu juga bentuk bertahan hidup? Kita menertawakan dunia bukan karena semuanya lucu, melainkan karena realitas kadang terlalu absurd untuk diterima mentah-mentah.
Jadi biarkan mahasiswa hari ini tetap ribut. Tetap sok kritis. Tetap salah kutip teori kiri di tongkrongan. Sebab dari semua kekacauan itu, setidaknya masih ada tanda bahwa sebagian anak muda belum sepenuhnya menyerah menjadi mesin.
